Bangku Kuliah dan Dunia Kerja
Musim penerimaan mahasiswa baru (maba) telah tiba. Hampir semua
perguruan tinggi (PT), baik negeri maupun swasta, berlomba-lomba
menggaet calon maba. Sebagaimana tahun sebelumnya, jurusan ’’favorit’’
seperti kedokteran, keguruan, ekonomi, hukum, dan teknik kebanjiran
pendaftar. Sebaliknya, jurusan ilmu sosial dan pertanian sepi peminat.
TINGGINYA animo masyarakat pada jurusan favorit dan ’’siap kerja’’ itu
bukan tanpa sebab. Para prang tua tentu tidak ingin anaknya hanya
menganggur, selepas lulus kuliah, karena ijazahnya ’’tidak laku’’ untuk
mencari kerja.
Mereka menggunakan cara apapun agar anaknya bisa masuk jurusan favorit.
Mulai dari menyewa joki saat ujian penerimaan, minta bantuan ’’orang
dalam’’ dengan membayar puluhan bahkan ratusan juta, sampai ikut
program swadaya atau nonreguler. Pendek kata, orang tua rela
mengeluarkan modal yang tak sedikit agar anaknya bisa kuliah, khususnya
pada jurusan-jurusan favorit.
Pertanyaannya, apakah dengan masuk jurusan favorit, mereka nantinya
bisa langsung bekerja? Langkah apa yang mesti dilakukan para mahasiswa
agar bisa sukses setelah lulus kuliah?
Sebenarnya kuliah, termasuk di jurusan favorit, belum tentu menjamin
masa depan yang cerah, khususnya dikaitkan dengan orientasi kerja.
Pasalnya, setiap tahun terjadi ketimpangan antara jenis keahlian yang
ditawarkan perguruan tinggi dan minimnya kesempatan kerja yang ada.

Posting Komentar